Senin, 30 April 2012

Unsur-Unsur Pada Novel


Novel            :       Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy
Penerbit       :       Basmala REPUBLIKA
Cetakan        :       Cetakan Pertama, Desember 2004
Tebal Buku   :       419 Halaman
A.     Sinopsis
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi naik-turunnya persoalan hidup dengan cara Islami. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Berhadapan dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias kecuali satu, menikah.
Fahri adalah seorang laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan makhluk bernama perempuan. Hanya sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Nenek, Ibu dan saudara perempuannya.
Pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur'an. Dan ia mengagumi Fahri. Kekagumannya berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diarinya saja.
Lalu ada Nurul, anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apapun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak perasaan Fahri terhadapnya.
Setelah itu ada Noura, Juga tetangga yang selalu disiksa oleh ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh kepada Noura dan ingin menolongnya. Ia hanya empati saja, tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisyah. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisyah jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak dapat untuk membohongi hatinya.

B. Unsur-unsur Intrinsik Pada Novel Ayat-Ayat Cinta.
a. Tema
Perjuangan dalam melawan ketidakadilan.
b. Tokoh
Tokoh utama : Fahri, Nurul, Maria, Aisyah, Noura
Tokoh Pembantu :
Saeful, Rudi, Hamdi, Tuan Boutros ( ayah Maria ), Nahed ( Ibu Maria ), Syaikh Usman ( Guru Besar Fahri ), Syaikh Ahmad ( Dosen Fahri di Al-Azhar ), Ustad Jalal ( Paman Nurul ) dan istrinya, Eqbal dan Istrinya ( Paman dan bibi Aisyah ), Amru ( Pengacara ), Magdi ( polisi ), Bahadur dan Kakak Noura, adik-adik Maria.
C. Plot / Alur : Alur maju
1.         Perkenalan :
Fahri mengenyam berpendidikan di Universitas Al-Azhar dan tinggal di flat bersama rekan mahasiswa dari Indonesia, kemudian kenal dengan tetangga dekatnya yaitu Maria sekeluarga. Serta menjalankan perkuliahan sebagaimana mestinya. Mengenal orang-orang Mesir diantaranya Syaikh Usman, Syaikh Ahmad dan tak lupa teman teman aktifis dari Mesir juga teman sepermainan Fahri pada saat bermain bola.
2.      Pertikaian :
Dimulai pada saat malam hari. Ada seorang gadis yang disiksa dan ternyata gadis itu adalah Noura, dia disiksa dibawah dekat flat Fahri dan siksaan itu terdengar oleh Fahri, dia mau menolongnya, namun ia tidak dapat melakukannya karena Noura adalah seorang perempuan. kemudian Fahri meminta Maria untuk menolong Noura. Walaupun Maria takut oleh Bahadur, ayah Noura, dia memberanikan diri dan akhirnya Noura tertolong. Setelah itu, Noura dititipkan kepada Nurul.
Adapun pertikaian pada saat Fahri pulang dari Alexsandria, berbulan madu bersama Aisyah. Ia ditangkap karena dituduh memperkosa Noura. Fahri tidak sempat menjelaskan pada Istrinya Aisyah. Kemudian, adapula pertentangan sengit pada saat Fahri sedang diadili dengan adanya kesaksian Noura yang mengaku telah diperkosa oleh Fahri pada saat menolongnya. Namun Fahri tidak merasa melakukan hal keji tersebut, akhirnya rasa kecewa pun muncul akibat Noura yang telah memfitnahnya.
3.      Klimaks :
Fahri dipenjara atas tuduhan pemerkosaan dan disiksa habis-habisan,  disana Fahri mengalami kesedihan yang luar biasa. Ia disiksa dan dipenjara dibawah tanah, sedangkan Aisyah sedang mengalami hamil dan juga bulan tersebut adalah bulan Ramadhan yang mana Fahri dan Aisyah berencana untuk Umroh. Hal tersebut merupakan hal yang dinantikan oleh mereka berdua, tapi malah sebaliknya mereka mengalami cobaan yang beruntun. Pada saat persidangan, Fahri dituduh habis-habisan oleh pengaduan Noura dan salah seorang saksi yang melihat kejadian itu, memperkuat dugaan bahwa Fahri bersalah. Keputusan itu membuatnya akan dihukum mati. Fahri tidak mempunyai bukti bahwa ia tidak bersalah, kecuali salah satu kunci utama dalam memecahkan kasus ini adalah Maria sebagai saksi yang dapat membebaskan fahri dapat memberikan kesaksiannya, sedangkan pada saat ini Maria sedang terbaring koma.
4.      Peleraian :
Akhirnya, jalan satu-satunya Fahri terpaksa menikahi Maria yang terbaring koma, dengan alasan ia akan sembuh apabila disentuh oleh Fahri. Fahri tertekan akan beberapa hal ini termasuk dari Aisyah dan orang tua Maria. Maria merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Fahri galau dan merasa sangat bertanggung jawab atas Aisyah yang sedang mengandung.
 Aisyah ingin agar Fahri segera terbebas dan ia ingin pada saat melahirkan anaknya Fahri hadir disisinya. Aisyah pun berkeputusan mengijinkan Fahri menikahi Maria secepatnya. Fahri pun menikahi Maria. Maria sembuh dengan sentuhan Fahri. Di persidangan, walaupun dia masih duduk dengan bantuan kursi roda, ia tetap menjadi saksi kunci kasus Fahri Dengan Noura. Dan akhirnya, kebenaran selalu menang. Fahri Bebas . Naura pun mengakui bahwa semua yang dikatakannya itu bohong. Smua itu ia lakukan karena ia mencintai Fahri. Sedangkan saksi yang melihat itu merupakan saksi palsu.
5.      Akhir :
Fahri memiliki 2 orang istri yang sholeh, Aisyah dan Maria. Kondisi Maria belum pulih dan setelah dari persidangan, ia dirawat kembali di rumah sakit. Pada saat ia dirawat ada keanehan yang terjadi, Maria tertidur dan bermimpi tiba di 7 pintu surga, ia ingin masuk karena mencium kenikmatannya, ia diperbolehkan masuk sampai pintu keenam dan pintu terakhir dia boleh masuk tapi dengan syarat ia harus berwudhu dan bersyahadat, kemudian Maria meminta izin kembali untuk memenuhi persyaratan agar bisa melewati pintu ke 7 . Maria terbangun dari mimpinya. Dihadapannya telah ada Fahri dan Aisyah, ia meminta untuk diajari melakukan wudlu dan syahadat. Setelah itu, diwudhukannya dirinya. kemudian ia bercerita kejadian di dalam mimpinya, Maria pun meminta Fahri dan Aisyah untuk mengajarinya syahadat. Pada saat selesai bersyahadat, perlahan-lahan Maria menutup matanya. Ternyata,  Maria telah meninggal dengan diakhiri Dua Kalimat Syahadat, ada pesan yang ditinggalkannya ketika berbicara kepada Fahri dan Aisyah, ia akan menunggu Fahri di sorga Firdaus untuk memadu cinta dan kasih.
d. Perwatakan :
  1. Fahri    :     Rajin, pintar, sabar, terencana, tepat waktu, ikhlas, ulet, penolong, sholeh, aktifis, adil dalam memimpin, lurus, dan penuh dengan target.                          
  2. Nurul   :     Rajin, Pintar, Pemalu, tidak terbuka, kaku, emosi, dan sholeh.
  3. Maria  :     Ceria, suka bergurau, rajin, pintar tapi fisiknya lemah, manja, dan tertutup.
  4. Aisyah :     Orangnya lembut, sabar, ikhlas, terencana, pintar, dan sholeh.
  5. Noura :     Orangnya tertutup, sulit di tebak, pintar, egois, emosional, dan pendiam.
e. Setting / latar :
Mesir Kairo Al-azhar ( Negara Mesir Benua Afrika ), flat, mesjid, restoran, Metro, penjara, Rumah sakit, Alexsandria.
f. Pusat Pengisahan :
Tokoh utama menuturkan ceritanya sendiri.
g. Amanat :
  1. Dalam merencanakan sesuatu pasti akan ada halangan dan rintangan yang menghadang tujuan yang hendak dicapai. Perjalanan itu tidak selalu akan berjalan mulus.
  2. Semakin banyak ilmu / pengetahuan yang diterima atau didapat,  semakin banyak pula hambatan dan godaan yang harus dilewati. Semua itu harus dipecahkan dengan hati yang sabar. Namun,  yakinlah bahwa semua itu akan ada hikmahnya.
h. Sudut Pandang : Aku sebagai orang pertama.
i. Gaya Penulisan : Khas,unik, penuh dengan nuansa religi, penuh dengan romansa cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar