Rabu, 25 April 2012

Hasil Diskusi


Pengaruh Tayangan Mistik dalam Dunia Hiburan
Tayangan mistik/misteri sudah cukup lama berlangsung di televisi komersial kita sebagai salah satu hiburan bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Malah ada stasiun TV yang menyelenggarakan acara mistik/misteri dua kali dalam satu minggu. Untuk tayangan mistik tersebar dibanyak tempat dan waktu, bahkan ada yang menyediakannya pada lewat tengah malam. Mengapa sampai berkepanjangan?
Alasan yang digunakan, klasik: ratingnya tinggi, banyak ditonton orang. Karena itu, iklannya juga banyak. Angka kepenontonan tersebut hanya dijajak dari 8 kota di Indonesia. Itu tidak mewakili pemirsa kota-kota lain, apalagi mewakili pemirsa desa-desa yang jumlahnya puluhan juta orang.
Terpaksalah pemirsa di pedalaman yang pendidikannya rendah menjadi korban. Mereka dijejali dan disuapi tayangan yang bukan keperluan atau kemanfaatan mereka. Iklan-iklan yang disisipkan membuat penonton TV di desa-desa hanya mampu menelan ludah. Bagi mereka, itu tidak terjangkau oleh isi kantong mereka. Uangnya tidak cukup untuk membeli. Bagi yang bependapatan pas-pasan, memaksakan diri untuk berkonsumsi tinggi. Tidak peduli, uang didapat dari mana, kalau perlu korupsi.
Beberapa tahun terakhir, tayangan mistik merebak di tanah air dalam dunia hiburan seperti industri perfilman maupun pertelevisian. Menjamurnya tayangan-tayangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari "tabiat" masyarakat Indonesia, terutama orang Jawa, yang masih kental dengan hal mistik. Gaya hidup atau keyakinan orang Jawa sebelum atau bahkan sesudah Islam masuk ke Jawa memang cenderung pada keyakinan kebatinan daripada keyakinan agama.
Sebelum siaran mistik marak ditayangkan di televisi pada awal 2000. terdapat sejumlah tayangan mistik yang dikemas dalam bentuk sinetron komedi dan nonkomedi.
Sinetron Tuyul dan Mbak Yul serta Jin dan Jun (RCTI) dapat dimasukkan dalam sinetron mistik-komcdi. Si Manis Jembatan Ancol (SCTV) serta Misteri Gunung Merapi (Indosiar) dapat dikategorikan dalam jenis sinetron mistik-nonkomedi. Sinetron-sinetron tersebut merintis jalan bagi sinetron mistik-religius.
Kemudian, muncul tayangan mistik dengan format reality show yang menampilkan sejumlah penampakan maldiluk halus dari ahm gaib. Bila sebelumnya disajikan secara menghibur dalam bentuk drama fiktif, tayangan mistik pada format reality show ditampilkan sebagai hiburan dalam bentuk sensasi yang mendebarkan. Di antaranya, Uka-Uka (TPI), Dunia Lain (Trans TV), dan Percaya Nggak Percaya (AnTV).
Contohnya, "imam" tayangan mistik adalah sinetron Rahasia Ilahi yang ditayangkan pada Ramadan 2003 oleh TPI. Sinetron tersebut diklaim mengambil ide cerita dari kisah-kisah nyata yang dimuat dalam majalah Hidayah.
Pada pertengahan Maret-April 2005, Rahasia Ilahi ditonton 40-50 persen pemirsa. Sejak itu, muncul sinetron dengan tema serupa. Di antaranya. Azab Dunia Ketiga (AnTV), Titipan Ilahi (Indosiar), Azab Ilahi (Lativi), Tuhan Ada di Mana-Mana (RCTI), Kuasa Ilahi (SCTV), Taubat (Trans TV), Takdir Ilahi (TPI), dan Titik Nadir (Trans 7).
Rahasia Simulasi Mistik Rahasia simulasi mistik televisi terletak pada empat tahap simulasi di dalamnya. Tahap pertama, televisi mencerminkan realitas. Dengan demikian, televisi menciptakan bayangan atau cerminan realitas. Mistik disimulasi melalui peristiwa gaib dan irasional. Seakan-akan, realitasnya memangdemikian.
Kedua devisi mengabulkan realitas. Realitas sesungguhnya berusaha disembunyikan melalui teknik-teknik yang dipakai industri pertelevisian. Simulasi mistik menyembunyikan atau menutupi realitas. Meski seakan-akan mirip dan merupakan cermin dari realitas, penggambaran nuansa mistik pada tahap tersebut justru menutupi realitas sebenarnya.
Ketiga, televisi mengubur realitas. Realitas sesungguhnya tidak lagi muncul dalam pilihan-pilihan representasi Realitas tidak disembunyikan atau ditutup-tutupi, tetapi benar-benar dihapus. Misalnya, pada tayangan reality show, cerita yang dibangun seolah-olah menyerupai realitas. Padahal, cerita itu justru menghapus realitas.
Keempat, realitas dalam televisi menggantikan realitas sesungguhnya. Realitas yang dibangun televisi tidak memiliki rujukan apa pun selain dirinya sendiri. Televisi melegitimasi realitas yang dibuatnya tanpa rujukan tersebut dengan rutinitas dan masifhya penayangan.
Di sisi lain, simulasi mistik religius dalam industri pertelevisian menandai terputusnya hubungan antara umat dan ulama. Selanjutnya, konsep keduanya tergantikan jalinan hubungan antara konsumer dan selebriti. Peran ulama sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang menyerukan secara terus-menerus ajaran suci kebaikan dan kebenaran agama perlahan pupus karena diambil alih televisi. Melalui ustad atau ulama selebriti, produk industri televisi, agama diterjemahkan dalam versi yang menghibur (religKfciinment) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan industri terhadap komoditas.
Tayangan mistis ini sama sekali tidak mendidik masyarakat Indonesia atau tayangan reality show yang nyatanya lebih banyak direkayasa daripada menunjukkan kondisi sebenarnya. Maraknya tayangan yang berbau mistik di berbagai stasiun televisi tidak membawa dampak positif bagi masyarakat. Hantu ditayangkan di televisi. Apa manfaatnya bagi masyarakat ?
Ada pihak yang mengatakan karena penonton suka, maka dapat menyedot iklan yang lebih banyak sehingga pendapatan televisi meningkat. Namun demikian, tidaklah bijaksana jika semua hal yang disukai masyarakat, meskipun tidak mendidik, ditayangkan di tv untuk dijadikan sebuah acara hiburan.
Menurut sumber yang kami dapatkan, ternyata tayangan yang berbobot seperti Discovery Channel tidak disukai oleh penonton dan akhirnya usaha pertelevisian menyerah dengan menayangkan kembali acara yang mungkin dianggap kurang berbobot, tetapi disukai banyak orang.
Untuk itu, pihaknya meminta media massa supaya tidak mengeskpose masalah pornograsfi dan mistik. Media massa seharusnya berperan untuk menumbuhkembangkan jiwa yang sehat dengan memberikan informasi yang baik dan bukannya merusak akhlak dan moral anak-anak bangsa.
Pelanggaran yang dilakukan televisi terkait tayangan seram itu berupa aspek kengerian. Koordinator Bidang Isi Siaran mengatakan, acara mistis yang selama ini ditayangkan televisi lebih menonjolkan unsur-unsur gambar, bukan unsur mistisisme. Gambar tersebut dibuat-buat, direkayasa, sehingga ada ketidakjujuran untuk mengatakan rekayasa. Selama orang Indonesia masih percaya pada ketuhanan, maka tayangan mistis akan tetap ada sebagai bagian kegaiban. Program acara mistis merupakan duplikasi mentah-mentah tayangan serupa dari luar negeri. Padahal acara tersebut dari negara asalnya dibuat untuk mengolok-olok eksistensi Tuhan dan hal gaib. Saat orang luar sedang menertawakan adanya hantu, Tuhan, dan segala macam kegaiban, dengan program-program semacam itu, orang Indonesia melihatnya sebagai program lucu, menarik, dan layak ditiru.
Siaran televisi mengajari anak untuk mengenal kehidupan masyarakatnya dan masyarakat lain. Siaran televisi berfungsi sebagai wahana proses sosialisasi. Anak-anak diajari mengenal nilai-nilai luhur, tetapi mereka juga disuguhi nilai-nilai buruk.
Sebatas yang kami ketahui, dalam dunia ilmiah/akademis di Indonesia sampai saat ini belum memiliki kajian khusus yang mempelajari efek siaran ini terhadap khalayak. Sementara ini yang baru muncul adalah masih sebatas hipotesis atau dugaan sementara mengenai ada-tidaknya, efek siaran tersebut yang belum teruji melalui penelitian, jadi masih belum konklusif. Namun, persoalan bangsa ini berkenaan dengan habit nya dalam mengkonsumsi tayangan-tayangan sinetron dan praktik-praktik media yang cenderung permisif dalam membuat program-program yang tidak mendidik, bahkan merusak akhlak bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar